{"id":261,"date":"2018-09-17T08:31:38","date_gmt":"2018-09-17T01:31:38","guid":{"rendered":"http:\/\/kopi.u2.nu\/?p=261"},"modified":"2018-09-17T08:31:38","modified_gmt":"2018-09-17T01:31:38","slug":"coffee-snob","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/2018\/09\/17\/coffee-snob\/","title":{"rendered":"Coffee Snob"},"content":{"rendered":"<p>Sekedar copas..<\/p>\n<p>Coffee snob<\/p>\n<p>Makin banyak orang yang menulis \u201cI am a coffee lover\u201d di berbagai akun media sosialnya. Coffee snob lebih dari sekadar coffee lover, lho. Coba cek ciri-ciri ini. Mungkin Anda adalah salah satunya.<\/p>\n<p>1) Pokoknya Starbucks itu salah.<\/p>\n<p>Tanpa mau peduli bedanya bentuk bisnis dan sifat kedai kopi international chain dengan third wave coffee shops, seorang coffee snob wajib menganggap mereka semua salah \u2013terutama Starbucks. Biarpun barista Starbucks sudah jadi juara di Indonesia Brewers Cup 2016, seorang coffee snob akan tetap menganggap Starbucks itu salah. Walaupun Starbucks sudah bantu mempromosikan kopi Indonesia ke seluruh dunia, tetap saja seorang coffee snob tidak akan memamerkan Starbucks Card koleksinya.<br \/>\n(Tidak dipamerkan, tapi ada di dompet.)<br \/>\nMusuh lain para coffee snobs: kopi luwak dan iced cappuccino.<br \/>\n160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_3<br \/>\nPemberdayaan petani? Kopi spesial? Alahhh, pencitraan.<\/p>\n<p>2) Koleksi t-shirt dan stiker kopi-kopian.<\/p>\n<p>Tanpa kostum yang menampilkan kefasihan tentang kopi dan kecintaan mereka yang mendalam sekali pada kopi berkualitas tinggi, seorang coffee snob tidak akan berani keluar dari rumahnya. Kaos, topi, tote bag, dan stiker mobil dari Coffee Collective, Drop Coffee, Seven Seeds, Arabica Kyoto, Stumptown Coffee dan sejenisnya pasti jadi kebanggaan sekaligus pernyataan identitas diri. Bukan hanya itu, masker wajah dan luluran juga mesti dari kopi. Punya kebun di rumah? Pupuknya pun dari ampas kopi.<\/p>\n<p>3) Bukan minum, tapi seruput.<\/p>\n<p>Supaya terasa berbagai flavors dan notes dari secangkir kopi maka seorang coffee snob tidak akan meneguk, tapi selalu menyeruput. Selesai menyeruput wajahnya akan tampak berpikir-pikir serius dengan pandangan menerawang ke angkasa. Terkadang dibarengi dengan anggukan-anggukan kecil dan dahi yang sedikit mengerut.<br \/>\nSetelah itu, dengan hanya dipancing pertanyaan, \u201cBagaimana rasa kopinya?\u201d, maka dari mulutnya akan keluar pembahasan rasa kopi itu sepanjang Pembukaan UUD 1945. Itu baru satu seruput, lho. Itu sebabnya seorang coffee snob bisa membuang waktu selama sejam untuk minum secangkir kopi saja. Dan, sesungguhnya, pemahaman cita rasa kopi yang paling agung hanya tercapai ketika kita menyeruput cappuccino.<br \/>\n160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_1<br \/>\nSendok kok buat ngaduk? Ceu, itu buat tasting, lagi.<\/p>\n<p>4) Pesan yang tidak ada di menu.<\/p>\n<p>Sudah ada espresso, double espresso, latte, cappuccino, piccolo dan flat white di menu. Namun, tentu selera seorang coffee snob terlalu sophisticated untuk bisa ditampilkan di papan menu yang diperuntukkan oleh peminum kopi biasa. Tanpa menoleh ke papan menu itu seorang coffee snob akan langsung saja minta Split. Atau, Magic. Atau, Tasting Flight. Quadrupple espresso. Pocahontas. Beelzebub.<\/p>\n<p>5) Fasih bahasa kopi.<\/p>\n<p>\u201cKalau varietal SL25 di-semi washed berarti acidity-nya tidak maksimal. Apalagi kalau elevasi-nya hanya 1.000 em-a-es-el. You pakai sistem steeping dan dripping juga percuma; nggak akan mengangkat acidity-nya. Mungkin kalau ada agitasi pas pre-infusion bisa bantu di first thirty seconds extraction-nya. Karena kalau nggak nanti bisa jadi under.\u201d<br \/>\nJangan nekat ajak debat lebih jauh. Lebih baik tawarkan air putih gratis saja. Tidak ada coffee snob yang tidak senang kalau disuguhi air putih gratis.<br \/>\n160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_7<br \/>\nAirnya infused water ya, tolong. Supaya tasting palate kami bisa siap buat cangkir kopi berikutnya. Makasih.<\/p>\n<p>6) Paham kopi kesukaannya hingga detil.<\/p>\n<p>\u201cSaya maunya double ristretto di 18 seconds, dan vessel-nya pas 150 ml, ya.\u201d \u201cTolong dibuatkan pakai Kallita Wave dengan grind size 8,5 di EK43 dan airnya 92 derajat supaya jadi 88 derajat pas pouring, dan contact time-nya pas dua setengah menit ya \u2013 selesai atau ngga tetap langsung di-cut saja. Oh ya, paper filter-nya yang bleached ya.\u201d<br \/>\nCoba telusuri ke bawah akun Instagram-nya sampai tahun lalu. Siapa tahu masih ada gambar Grande Choco Chips Frappuccino with Extra Caramel and Extra Cincau.<\/p>\n<p>7) Alamat liburan: Melbourne dan Skandinavia.<\/p>\n<p>Dan, kalau sudah liburan ke tempat-tempat ini, akun Instagram-nya akan penuh dengan foto-foto berbagai cangkir kopi di depan mesin espresso enam grup-nya Proud Mary, pengkolannya Tim Wendelboe di Oslo, bar-nya Coffee Collective, kursi-kursi di langit-langit Brother Baba Budan, dan seterusnya. Itulah pertanda bahwa seorang coffee snob sudah \u201cnaik haji\u201d.<br \/>\n160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_0<br \/>\nBiar afdol, supaya lebih \u2018hidup menyatu dengan alam bebas\u2019 a la manusia-manusia Skandinavia.<\/p>\n<p>8. Kenal baik sama Matt, Tim dan Hide.<\/p>\n<p>\u201cItu lho, si Matt waktu itu bilang bahwa levelling mestinya bukan begitu.\u201d<br \/>\n\u201cKalau Tim sih waktu itu langsung ketemu sama petani-petaninya.\u201d<br \/>\n\u201cGua sih ngelihat si Hide tamping tuh ngga kencang-kencang banget, ya.\u201d<br \/>\nPokoknya kesannya sudah \u201cbro-bro\u201d-an betul sama Matt, Tim, Hide dan tokoh-tokoh specialty coffee internasional lain. Padahal orang ini membaca artikel Matt Perger di baristahustle.com, atau baca company profile-nya Tim Wendelboe, dan menonton rekaman video penampilan Hidenori Izaki di World Barista Championship. Yah, pokoknya sebut nama depannya saja supaya kesannya seperti sudah jadi teman nge-bir di Legian sama mereka.<br \/>\n160924-abcd_8-ciri-coffee-snob_5_twitter<br \/>\nYa, gitu deh bro. Asik emang si Matt orangnya.<\/p>\n<p>oleh Ve Handojo<br \/>\nABCD School of Coffee<\/p>\n<p>http:\/\/kopikini.com\/8-ciri-seorang-coffee-snob\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekedar copas.. Coffee snob Makin banyak orang yang menulis \u201cI am a coffee lover\u201d di berbagai akun media sosialnya. Coffee snob lebih dari sekadar coffee lover, lho. Coba cek ciri-ciri ini. Mungkin Anda adalah salah satunya. 1) Pokoknya Starbucks itu salah. Tanpa mau peduli bedanya bentuk bisnis dan sifat kedai kopi international chain dengan third &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/2018\/09\/17\/coffee-snob\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Coffee Snob&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-261","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=261"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":262,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261\/revisions\/262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kopi.u2.nu\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}